Feeds:
Pos
Komentar

42-18368517.jpg

Prestasi belajar, terutama tingkat kelulusan siswa hingga 100 persen menjadi target utama dan kebanggaan sekolah. Setidaknya untuk menunjukkan peringkat sekolah di suatu wilayah dan khususnya bagi sekolah swasta yang saling berkompetisi. Namun, dewasa ini, keberhasilan tersebut bukan semata menjadi ukuran bagi orangtua dalam keputusan memilih sekolah bagi putera-puterinya. Faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan orngtua dalam memilih sekolah ?

101741-01.jpg Persepsi vs Realitas

Banyak sekolah yang berlomba melengkapi dan memodernisasi fasilitas belajar-mengajar, bahkan dengan sarana yang memanfaatkan teknologi canggih, seperti: Kelas dengan perlengkapan multimedia, sarana olahraga yang sedang populer, laboratorium komputer dan bahasa, absensi elektronik, Laboratorium IPA & Fisika, hingga amphitheatre, dll. Bahkan mulai menjamur sekolah dengan sistem “boarding school” dengan berbagai konsep; nuansa agama, internasional, dan sebagainya.

200554347-001.jpgDengan dimilikinya fasilitas “physical” tersebut, sekolah berharap akan terbentuk citra sebagai sekolah modern dan terdepan. Pada kenyataannya, masyarakat pun akan menganggapnya demikian, namun dalam bahasa yang lebih sederhana: 77588079.jpgsemakin mewah gedung dan fasilitasnya, berarti semakin mahal biayanya. Semakin mewah mobil yang mengantar anak ke sekolah dan selalu membuat kemacetan, kian dikenal eksklusif sekolahnya. Dilain pihak menurut pandangan/ persepsi orangtua calon siswa, sekolah mahal belum tentu terbaik diantara sekolah mahal. Persepsi masyarakat terhadap suatu sekolah, tidak selamanya sesuai dengan realita “keunggulan” yang dimiliki sekolah.

Apalagi fenomena yang kini makin mengemuka, terjadi pergeseran sistem nilai (termasuk habit dan behavior) di masyarakat terhadap dunia pendidikan. Baik penilaian tentang sekolah bergengsi, sekolah favorit dan sekolah alternatif. Faktor macro environment (teknologi, ekonomi, kebijakan pemerintah, dan kultur) yang paling mempengaruhi adalah: ekonomi. Terlebih pada saat situasi ekonomi saat ini yang tidak menentu dengan lonjakan harga minyak dunia dan kebutuhan bahan pokok.

200418480-001.jpgAspirasi Orangtua

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa jasa pendidikan sudah memasuki ranah komersial dan mau tak mau berlaku pula hukum pasar. Misalnya, mengikuti segmentasi konsumen, baik dari segi status sosial ekonomi AMB (Atas, menengah dan bawah) maupun psikografis (aspirasi, motivasi dan perilaku42-18429758.jpg konsumen). Tak terkecuali berlaku pula untuk sekolah negeri.

Bagi orangtua kalangan ekonomi mapan, pilihan terhadap sekolah mahal sangat dipengaruhi oleh:

  • Anak dari siapa saja (tokoh masyarakat, selebritis) yang ada di sekolah tersebut.
  • Kegiatan sekolah (internal dan eksternal) yang menjadi buah bibir masyarakat.
  • Menjembatani untuk meneruskan pendidikan anak di luar negeri.
  • Kualitas perlakuan/ pelayanan manajemen sekolah terhadap orangtua.
  • Menunjang gengsi orangtua

Adapun bagi orangtua kalangan ekonomi menengah-menengah 74147865.jpgatas, faktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan:

  • Output/ mutu alumnus dan yang diterima di perguruan tinggi
  • Biaya pendidikan yang wajar/ reasonable/harga pasar
  • Nuansa Agama/42-16988523.jpg pendidikan moral
  • Kegiatan sekolah (internal/ eksternal) yang menonjol
  • Lokasi sekolah yang masih terjangkau

Sedangkan untuk orangtua kalangan ekonomi menengah bawah, faktor yang dominan adalah:

  • Biaya pendidikan terjangkau/ gratis
  • Lokasi berdekatan rumah
  • Bernuansa Agama200217837-002.jpg

Kendatipun faktor ekonomi menjadikan konsumen/ orangtua calon siswa memperhitungkan value for money dalam memutuskan pemilihan sekolah, namun aspek pertimbangan emosional (emotional benefit ketimbang product benefit) sesungguhnya tetap menjadi yang utama dalam ketiga kelompok Social Economy Status (SES) orangtua konsumen sekolah. Dengan kata lain, jika orangtua mau menjawab dengan jujur, maka alasan utama setiap kelompok orang tersebut di atas, yaitu:

  1. Mendukung martabat dan derajat kehormatan orangtua
  2. Bangga bisa menyekolahkan anaknya bukan di skolah biasa (sekalipun tetap mengeluhkan besarnya biaya sekolah)
  3. Terhindar dari rasa malu karena anaknya tidak bersekolah

Agar lebih meyakinkan penilaian obyektif terhadap tulisan ini, alangkah baiknya bila setiap sekolah membuat survai, teristimewa pada saat wawancara dengan orangtua dalam penerimaan siswa baru.

57420359.jpg

Ketika memasuki dunia pendidikan dasar, dengan mudah kita bisa mengarahkan anak untuk belajar serta mendorong berprestasi semampu mungkin. Namun, menjelang usia mereka remaja dan bersiap untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, orangtua pun bingung menentukan yang terbaik buat putera-puterinya. Bisa disebabkan oleh faktor kesulitan biaya, maupun minat dan kemampuan anak yang belum fokus. Begitu pun sebaliknya, putera-puteri kita merasa gamang untuk menentukan pilihan. Mereka sendiri mempertanyakan kepada diri sendiri, bidang apa yang sesungguhnya tepat menjadi dunia kehidupannya. Anak dihadapkan pada pilihan: memenuhi keinginan orangtua, atau mengikuti anjuran teman dan bahkan pacar, atau sesuai dengan impiannya sekarang .. semua menjadi hal yang membingungkan bagi anak. Salah memutuskan dan salah pilih, bukan hal yang tak mungkin menjadi persoalan yang kemudian dihadapi anak. Pindah kuliah di tengah jalan, menjadi cerita klasik di kampus-kampus. Alasan terbanyak: karena putus pacaran, karena pilihan sebelumnya dipaksa orangtua. Juga, banyak mereka yang kuliah karena malu menganggur dan daripada tidak ada akivitas sama sekali. Lantas, bagaimana dengan harapan orangtua agar masa depan anaknya kelak lebih baik dari Ayah dan Ibunya ?

Kenali

Cara terbaik agar anak dapat mempersiapkan diri memasuki perguruan tinggi, adalah memperkenalkan berbagai profesi kepada mereka. Melalui forum “sharing & learning” dengan melibatkan orangtua sebagai pembicara, adalah cara termurah dan kian menjalin interaksi sekolah dengan orangtua. Jika dana tersedia, bisa saja menggunakan lembaga yang khusus menggali minat dan potensi anak dalam sebuah program serupa assesment. Faktor terpenting adalah adanya komunikasi antara orangtua dan anak mengenai pilihan profesi. Bukan hanya mengenai profesi orangtuanya, juga karir lainnya yang mungkin menjadi self interest anak pada masa sekarang. Peran orangtua adalah memberikan gambaran yang komprehensif tentang dunia kerja dan prospeknya. Berbeda halnya, jika orangtua merencanakan untuk mewariskan perusahaan kepada anaknya, tentu pendidikan yang diarahkan sesuai dengan tuntutan bidang usaha tersebut. Pada kondisi ini, tetap bisa terjadi konflik pilihan antara anak dan orangtua. Cara terbijak adalah kedua belah pihak saling mengenali dan mempelajari pilihan yang berbeda tersebut. Memberi kesempatan satu sama lain untuk meyakinkan pilihannya, merupakan sikap arif dalam budaya pendidikan yang demokratis.

Realita

Agar anak tidak terjebak dalam angan dan impiannya, seyogyanya diberikan gambaran realita kehidupan nyata kehidupan di luar rumah dan sekolah. Hal ini dimaksu42-18277379.jpgdkan agar kelak anak tidak terkejut serta traumatis menghadapi dunia nyata yang acapkali bertolak-belakang dengan norma serta sistem nilai yang mereka pelajari. Bagaimana harus menyikapi situasi yang buruk (tipu daya, kekerasan, godaan ketidakadilan, dll) sangat dibutuhkan anak agar tidak terjerumus dan menyerah pada kondisi yang serba menakutkan. Menyadari realita berarti pula membekali anak agar mampu melawan putus asa.

Berubah.

42-19004644.jpgPendidikan akhlak yang paling dasar, namun menentukan pembentukan kepribadian anak adalah belajar bertanggung jawab. Baik kepada diri sendiri, kepada Yang Maha Pencipta, kepada orangtua maupun kepada sekolah dan orang lain. SMS Sekolah merupakan salah satu sarana untuk membudayakan perilaku jujur dan bertanggungjawab. Konsekuensi bagi anak, adalah sudut pandang dan perilakunya dituntut berubah. Membalas kasih orangtua, dengan kesadaran belajar dan berprestasi. 57420344.jpgMenghormati peran guru dan teman sekolah, sebagai komunitas bermartabat dan karunia dari Sang Maha Pencipta. Menghargai dan menjadi diri sendiri dalam mewujudkan insan yang berguna di mana pun ia berada. Menyadari betapa berat perjuangan anak-anak kita menjadi manusia seutuhnya, alangkah indahnya jika kita semua mau berubah untuk berbuah. Agar terwujud anak-anak Indonesia yang mampu merentang sejahtera dan harkat negara.

Setiap sekolah tentu mempunyai program ekstrakurikuler (eskul) andalan, sehingga sekolah tertentu akan terkenal dengan olahraga, pensi (pentas seni) atau piawai membuat event akbar. Khalayak sasaran (target audience) umumnya para siswa sekolah lain dan terkadang orangtua dan masyarakat umum menjadi peserta pasif. Bagaimana seandainya, eskul melibatkan aktif peran orangtua ?

Asing

sb10064485c-001.jpgSejumlah sekolah ternama, dalam visi dan misinya mencantumkan tekad dan harapannya mendidik generasi muda yang cerdas, berakhlak dan berpengetahuan selaras kemajuan zaman. Namun pada kenyataannya, ketika dilakukan survai terbatas kepada siswa SMP dan SMA melalui wawancara dan telepon, diperoleh gambaran bahwa umumnya mereka merasa asing bersentuhan dengan dunia usaha, kecuali samar-samar memahami bidang profesi ayahnya dan ibunya (yang juga bekerja). Lebih membingungkan buat mereka, jika ditanya tentang profesi dan bidang usaha yang jarang dibicarakan orang atau , misalnya profesi: account planner, copywriter, food stylist, technical advisor, product manager, floor director, dll adapun bidang usaha, misalnya: creative boutique, production house, dll. Bermula dari fenomena itulah, mengapa dalam eskul juga disertakan orang tua dalam program “Sharing & Learning”, yaitu orangtua atau yang mempunyai hubungan dekat dengan tokoh dibidang tertentu memberikan pengenalan tentang profesi maupun pengetahuan tentang bisnis mereka, kepada siswa dan juga guru.

Minat

Adanya gambaran tentang berbagai profesi kepada siswa, selain membuka wawasan sekaligus sebagai stimulus untuk menggali minat dan potensi siswa setelah lulus SMA, mereka hendak meneruskan pendidikan ke mana. Soal kelak hendak menjadi apa juga menjadi kesulitan bagi siswa maupun orangtuanya. Banyak siswa yang akhirnya mengikuti jejak profesi orangtuanya, sekalipun hal itu bukan bidang yang diminatinya. sb10063049j-001.jpgAtau banyak diantara siswa akhirnya masuk perguruan tinggi karena mengikuti teman atau pacar, dan akhirnya berhenti di tengah jalan. Sungguh ironis memang, mengingat biaya pendidikan kini semakin mahal dan waktu yang kurang termanfaatkan dengan optimal.

Mekanisme

71697063.jpgPelaksanaan eskul luarbiasa ini bisa dilakukan sebulan sekali, pada hari yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Pemaparan profesi oleh orangtua ataupun kenalan yang diundang oleh orangtua dalam “sharing & learning” sebaiknya dalam suasana santai, menyenangkan namun tertib. Peralatan seperti laptop, infocus sangat membantu untuk memberikan gambaran melalui fo73976772.jpgto maupun video, sehingga alam pikiran siswa seolah dibawa secara ilustratif. Sesi tanya jawab dengan moderasi sangat dianjurkan, agar siswa belajar mampu berbicara di muka umum dengan baik. Jika dimungkinkan, dapat diselingi dengan acara hiburan, baik oleh siswa maupun dari orangtua sebagai pembicara. Waktu penyelenggaraan, sebaiknya tidak lebih dari 1o5 menit (1 jam 45 menit).

Citra Sekolah

Program eskul “Sharing & Learning” ini boleh diberikan nama seunik mungkin oleh 42-18951783.jpgsekolah. Dampak positif dari terselenggaranya acara ini, adalah orangtua kian merasa memiliki sekolah dan termotivasi untuk memberikan gagasan yang terbaik kepada sekolah. Orangtua pula yang pada akhirnya menjadi alat promosi yang paling efektif dalam menjual sekolah kepada relasi maupun kerabatnya. Dengan kegiatan semacam ini pula, terwujud harapan sekolah untuk membangun citra dan mendapatkan siswa yang berkualitas.

amarah.jpg

Jika putera-puteri Anda enggan bersekolah, atau nilai ulangan terus memburuk, jangan terburu-buru menghakimi dengan tuduhan maupun cercaan yang menyudutkan. Apalagi, jika putera-puteri Anda sesungguhnya bukan siswa yang bodoh sebagaimana catatan prestasi yang diraih di kelas-kelas sebelumnya.

Banyak faktor penyebab yang ditimbulkan, misalnya: jatuh cinta/ putus cinta jika putera-puteri Anda menginjak dewasa, kesepian, petengkaran orangtua/ Ayah dan Ibu akan bercerai, membenci guru mata pelajaran tertentu, ancaman dan kekerasan oleh senior/ teman di sekolah, dsb-nya.

Untuk mengetahui sumber masalah, tindakan bijak orangtua adalah mengajak putera-puterinya berbicara dari hati ke hati. Tunjukkan kasih dan sebagai orangtua kita siap menolong kesulitan apapun yang dihadapi putera-puteri kita hingga mereka berani dan mau berterus terang mengatakan hal sebenarnya.

Namun, jika persoalan yang dihadapi putera-puteri kita seperti diungkapkan oleh Ibu Maria di Cinere-Limo, Depok yang dimuat pada harian Kompas tanggal 10 Desember 2007, sebaiknya tindakan apa yang harus dilakukan orangtua ? Bertemu dengan kepala sekolah dan wali kelas untuk meminta jaminan keamanan dan kenyamanan belajar putera-puterinya di sekolah tersebut ? Melaporkan ke polisi ? Bagaimana pula dengan siswa yang memilih keluar dari sekolah tersebut karena tetap merasa terintimidasi ? Benarkah kekerasan kian membudaya di Indonesia, kenapa ? Lanjut Baca »

Asal Muasal

  • 97,3 persen pelajar terpengaruh menggunakan narkoba karena memiliki teman yang menggunakan zat terlarang tersebut.
  • 86,7 persen diawali dengan mendapatkan gratis dari temannya.
  • 77,3 persen pelajar membeli narkoba dari uang yang didapat dari orangtuanya.

Perubahan Perilaku

setelah pelajar menggunakan narkoba:

  • Meninggalkan ibadah,
  • bolos sekolah,
  • berbohong,
  • minggat dari rumah,
  • pergaulannya lebih bebas,
  • berani mencuri,
  • prestasi belajar merosot tajam,
  • melanggar disiplin di rumah,
  • merusak barang,
  • melawan orangtua dan guru,
  • pemalas dan tidak mau merawat diri,
  • suka mengancam,
  • mudah mengalami kecelakaan lalu-lintas.

alarm.jpgtolak-narkoba.jpg

Survei di Jakarta dan Banten

( Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) dimuat harian Kompas tanggal 12 Desember 2007)

Dari 100 pelajar yang menjadi responden:

  1. Jakarta (7,1%),
  2. Banten (6,4%)

Menjalin komunikasi yang baik dan berkelanjutan antara sekolah dan orangtua, merupakan awal tindakan preventif dalam memantau disiplin dan prestasi belajar siswa.

SMS Sekolah

Dalam beberapa hari ke depan, sekitar tanggal 19 hingga 22 Desember, orangtua diundang ke sekolah untuk penerimaan rapor. Tidak sedikit orangtua yang merasa was-was, bukan hanya mengenai nilai merah, juga kemungkinan adanya informasi yang kurang sedap tentang perilaku putra/ putrinya. Acapkali, orangtua dibuat terkejut dan merasa dibohongi oleh putra/ putrinya. Kasus yang kerap terjadi: bolos sekolah padahal sudah diantar hingga pintu gerbang, kabur pada jam pelajaran tertentu dengan alasan sakit tapi tidak pulang ke rumah, uang sekolah yang belum dibayarkan. Benarkah kebohongan merupakan warisan turun temurun ? Adakah cara yang efektif untuk memutuskan stigma “vicious circle” ini ?

Lanjut Baca »