Jika putera-puteri Anda enggan bersekolah, atau nilai ulangan terus memburuk, jangan terburu-buru menghakimi dengan tuduhan maupun cercaan yang menyudutkan. Apalagi, jika putera-puteri Anda sesungguhnya bukan siswa yang bodoh sebagaimana catatan prestasi yang diraih di kelas-kelas sebelumnya.
Banyak faktor penyebab yang ditimbulkan, misalnya: jatuh cinta/ putus cinta jika putera-puteri Anda menginjak dewasa, kesepian, petengkaran orangtua/ Ayah dan Ibu akan bercerai, membenci guru mata pelajaran tertentu, ancaman dan kekerasan oleh senior/ teman di sekolah, dsb-nya.
Untuk mengetahui sumber masalah, tindakan bijak orangtua adalah mengajak putera-puterinya berbicara dari hati ke hati. Tunjukkan kasih dan sebagai orangtua kita siap menolong kesulitan apapun yang dihadapi putera-puteri kita hingga mereka berani dan mau berterus terang mengatakan hal sebenarnya.
Namun, jika persoalan yang dihadapi putera-puteri kita seperti diungkapkan oleh Ibu Maria di Cinere-Limo, Depok yang dimuat pada harian Kompas tanggal 10 Desember 2007, sebaiknya tindakan apa yang harus dilakukan orangtua ? Bertemu dengan kepala sekolah dan wali kelas untuk meminta jaminan keamanan dan kenyamanan belajar putera-puterinya di sekolah tersebut ? Melaporkan ke polisi ? Bagaimana pula dengan siswa yang memilih keluar dari sekolah tersebut karena tetap merasa terintimidasi ? Benarkah kekerasan kian membudaya di Indonesia, kenapa ?
Generasi Digital, bukan Budaya Brutal !
Kemajuan teknologi seyogyanya kian mendorong semangat belajar dan tak berhenti menguak inovasi dalam mengukir prestasi. Berderet produk teknologi yang memberikan kesenangan hidup, seperti: komputer, tv, seluler, internet, handycam, digital camera, dll ternyata tak hanya memberi berkah dan kemudahan untuk berkarya. Juga, menggoda dan mempengaruhi kita untuk semakin sombong, semena-mena hingga begitu gampang bertindak kejam kepada orang lain.
Terlebih lagi bagi remaja dan kaum muda yang senantiasa bercermin pada perilaku masyarakat dewasa: pamer kekuasaan, status, harta dan kekuatan, tak pelak lagi membuat generasi muda dalam pencarian jatidiri kian tak terkendali. Mereka bisa meniru menjadi siapa saja yang mereka anggap idola. Mereka merasa bebas berbuat apa saja yang mereka suka. Boleh jadi, semakin brutal aksi mereka, semakin merasa hebat dan lebih diakui. Itukah tradisi belajar yang sesungguhnya ?
Terlupakan bahwa indeks kualitas sumberdaya manusia Indonesia, kini melorot memilukan, bahkan berada di bawah negara Vietnam yang belum lama diporak-porandakan oleh perang. India yang semula dikenal berpenduduk miskin, kini mulai disegani sebagai sentrum teknologi IT di Asia.
Tidak seorang pun orangtua yang berharap putera-puteri mereka berwatak jahat. Apalagi bertindak kejam terhadap siapa pun. Agama melarang berbuat zolim kepada sesama. Namun, mengapa berita setiap hari di televisi tak pernah sepi dari: tawuran pelajar, tawuran warga, bentrok sana sini …….. Kenapa ?
Generasi Digital, bukan Berbudaya Brutal. Engkau kah itu ?

SISWA SMP TEWAS DIANIAYA GURUNYA
Riyan Herdiyana (13), siswa SMP Negeri I Jampang Tengah, Sukabumi, Jawa Barat tewas setelah ditikam guru olehraganya (TR)di halaman sekolah. Itulah berita Kompas tanggal 19 Desember yang juga dilansir berita sore Trans TV. Padahal rumah guru dan orangtuasiswa tinggal bersebelahan. Latar belakang dan motivasi penganiayaan masih diselidiki oleh Polisi.
Namun, peristiwa mengenaskan itu memberi gambaran kepada kita. Bahwa kenakalan yang tiada batasnya bisa jadi semakin tak terkendali. Benarkah orangtua tak mengetahui kenaklan anaknya ? Begitu pula, mengapa kita sungguh mudah gelap mata. Benarkah kesabaran memang sudah habis di hati kita, sehingga kekerasan muncul di mana-mana. ? Bukankah setiap kali kita memanjatkan doa, kesadaran untuk mengasihi sesama diperintahkan oleh Tuhan Maha Pencipta ?
Mari, kita perbarui tabiat mulai dari diri sendiri dan keluarga. Agar semua kebaikan bangsa ini dikaruniai damai sejahtera dari Yang Maha Kuasa. Amien.